Mampir Mas!!

Jual-beli-sewa kata beragam rupa, beragam makna. Kalau Anda berminat, yuk mari disikat. Tapi kalau tak sudi, janganlah meradang benci. Tak baik buat kesehatan. Ongkos dokter pun di sini mencekik!

Kamis, 31 Maret 2011

Perang tanding slogan iklan


Save the words! Selamatkan kata agar kata tak hilang kuasa. Kata bisa jadi senjata menghunus. Kata bisa jadi pengail fulus. Nah, untuk kategori yang terakhir ini… terkait langsung dengan strategi mengotak-atik kata dalam jagad pariwara. Bagaimanapun, setiap konsep iklan selalu memanfaatkan kekuatan elemen visual dan tekstual. Sinergi kedua elemen ini akan membentuk kekuatan maha dahsyat yang bisa menghujam ke dalam benak konsumen sasaran.

Elemen tekstual. Rangkaian kata-kata yang singkat namun padat makna sering kali menjadi senjata pamungkas alias hook di akhir sebuah iklan. Rangkaian kata-kata pengunci ini ada yang menyebutnya slogan, tagline, strapline, ataupun endline. Apapun istilah yang dipilih, kata-kata pilihan yang telah dikonseptualisasikan secara matang itu merupakan intisari dari potensi atau kekuatan sebuah merek. Kata-kata bertaji ini seringkali juga dijadikan sebagai positioning claim sebuah merek.

Susu Saya Susu Bendera. Apakah Anda masih teringat dengan slogan iklan ini? Begitu melekat rangkaian kata-kata itu di benak konsumen susu instan (bubuk, kental manis, segar) selama beberapa generasi. Slogan itu langsung dikaitkan dengan sebuah produk susu. Slogan yang sederhana namun sarat makna efektif untuk mengkomunikasikan call to action kalau… “susu saya sudah susu bendera lho, susu Anda juga kan?”

Perang slogan iklan pun tak terelakkan. Hal ini tampak jelas dengan kompetitor di kategori produk sejenis yang mengusung slogan taktis… “aku dan kau suka Dancow.” Pesan komunikasi yang ingin disampaikan tentu saja sebuah ketegasan bahwa… “kita sama-sama suka susu Dancow, bukan yang lain lho!” Sampai saat ini, kedua merek terus bersaing ketat menjadi top of mind di benak konsumen penikmat susu instan dan terus berinovasi menambah varian produknya.

Saling sikut menggunakan slogan iklan juga sempat terjadi pada kategori produk permen kopi. Eksistensi Kopiko sebagai permen beraroma kopi tulen yang mengusung slogan “gantinya ngopi” mulai terusik dengan kehadiran permen Kino. Pendatang baru ini menyusup cepat dengan berbekal slogan “gantinya permen kopi” yang langsung menohok posisi permen Kopiko sebagai kompetitor utamanya.
Persaingan sengit ini semakin meruncing dengan manuver keberanian permen Kino untuk menggunakan key word provokatif yang mengusik kompetitornya: “yang ini Kino, yang itu kuno!” Itulah salah satu bukti betapa serunya perseteruan menghunus kata dalam iklan.

Salah satu slogan iklan tempo dulu yang masih bertahan hingga saat ini adalah slogan iklan lampu Philips yang mengusung pesan “terus terang Philips terang terus.” Dengan pesan slogan seperti ini, lampu Philips terus memantapkan posisi dirinya sebagai lampu yang memiliki kualitas tahan lama alias awet pemakaiannya.

Slogan iklan juga dapat memperlihatkan perjalanan panjang sebuah merek untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin keras. Coba perhatikan slogan iklan Toyota Kijang yang selama bertahun-tahun menebarkan pesan bahwa Toyota Kijang … “Tiada Duanya.” Karena kenyamanan saat berkendara dengan Toyota Kijang tak dapat ditemukan pada mobil yang lain. Setelah beberapa dekade terus melakukan inovasi produk yang disesuaikan dengan temuan consumer insight-nya, perlahan tapi pasti Toyota Kijang merasa perlu memunculkan pernyataan dari kepuasan konsumennya dalam sebuah slogan. Sebentuk kejujuran sekaligus sebuah pengakuan konsumen yang terangkum dalam sebait slogan… “Memang, Kijang Tiada Duanya.” Sungguh sebuah strategi komunikasi yang konseptual dan efektif untuk mendukung masa perjalanan panjang merek Toyota Kijang yang telah menjadi ikon sebagai kendaraan keluarga Indonesia.

Nah, bagaimana dengan kalian? Adakah slogan iklan lain yang sekian lama tertambat di hati kalian?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar